Minggu, 07 Oktober 2012

Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan


Pendahuluan
Ketimpangan yang besar dalam distribusi pendapatan (yang dimaksud dengan kesenjangan ekonomi) dan tingkat kemiskinan (persentase dari jumlah yang hidup dibawah garis kemiskinan) merupakan dua masalah besar di banyak LDCs, tidak terkecuali Indonesia .dikatakan besar, karena jika dua masalah ini berlarut-larut atau dibiarkan semakin parah, pada akhirnya akan menimbukan konsekuensi politik dan social yang sangat serius. Suatu pemerintahan bias jatuh karena amukan rakyat miskin yang sudah tidak tahan lagi menhadapi kemiskinannya. Bahkan kejadian tragedi mei 1998 menjadi suatu pertanyaan hingga sekarang andaikan tingkat kesejahteraan masyarakat di Indonesia sama dengan misalnya di swiss, mungkinkah mahasiswa akan begitu ngotot berdemonstrasi hingga akhirnya membuat rezim soeharto jatuh pada bulan mei 1998?
Di Indonesia, pada awal pemerintahan Orde Baru pembuatan kebijaksanaan dan perencanaan pembangunan ekonomi dijakarta masih sangat percaya bahwa proses pembangunan ekonomi yang pada awalnya terpusatkan hanya di Jawa, khususnya Jakarta dan sekitarnya, dan hanya disektor-sektor tertentu saja,pada akhirnya akan menghasilkan apa yang dimaksud dengan trickle down effects.didasarkan pada kerangka pemikiran tersebut, pada awal periode Orde Baru hingga akhir tahun 1970-an, startegi pembangunan ekonomi yang dianut  oleh  pemerintahan soeharto lebih berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi yang tinggi.untuk mencapai tujuan tersebut maka pusat pembangunan ekonomi nasionaldimulai di pulau jawa dengan alas an bahwa fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan seperti pelabuhan, jalan raya dan kereta api, telekomunikasi, kompleks industry, gedung-gedung pemerintahan/ administrasi Negara, kantor-kantor perbankan , dan infrastruktur pendunkung lainnya lebih tersedia di pulau jawa dibandingkan di provinsi-provinsi lain di Indonesia.
Pembangunan pada saat itu juga hanya terpusatkan di sektor-sektor tertentu saja yang secara potensial memiliki kemampuan besar untuk mengahsilkan NTB yang tinggi . mereka percaya bahwa nantinya hasil dari pembangunan itu akan menetas ke sektor-sektor dan wliayah Indonesia lainnya.
Pembahasan
          Besarnya kemiskinan dapat diukur dengan atau tanpa mengacu kepada garis kemiskinan.konsep yang mengacu kepada garis kemiskinan disebut kemiskinan relatif, sedangkan konsep yang pengukurannya tidak didasarkan pada garis kemiskinan disebut kemiskinan absolut . kemiskinan relatif adalah suatu ukuran mengenai kesenjangan di dalam distribusi pendapatan, yang biasanya di definisikan di dalam kaitan nya dengan tingkat rata-rata dari distribusi yang dimaksud.di Negara-negara maju (DCs),kemiskinan relatif di ukur diukur sebagai suatu proporsi dari tingkat pendapatan rata-rata perkapita sebagai suatu ukuran relatif , kemiskinan relatif  dapat berbeda menurut Negara atau periode di dalam suatu Negara tersebut. Kemiskinan absolut adalah derajat dari kemiskinan di bawah, dimana kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahan hidup tidak dapat terpenuhi . ini adalah suatu ukuran tetap di dalam bentuk suatu kebutuhan kalori minimum di tambah komponen-komponen nonmakanan yang juga sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup . walaupun kemiskinan absolut sering juga disebut kemiskinan ekstrem, tetapi maksud dari yang terkakhir ini bias bervariasi, tergantung pada iterpretasi setempat atau kalkulasi.
Hubungan antara pertumbuhan dan kemiskinan
          Dasar teori dari korelasi antara pertumbuhan pendapatan per kapita dan tingkat kemiskinan tidak berbeda dengan kasus pertumbuhan ekonomi dengan ketimpangan dalam distribusi pendapatan . mengikuti hipotesis Kuznets, pada tahap awal dari proses pembangunan,tingkat kemiskinan cenderung meningkat, dan pada saat mendekati tahap akhir dari pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang. Tentu,seperti telah dikatakan sebelumnya, banyak faktor-faktor lain selain pertumbuhan pendapatan yang juga berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di suatu wilayah/Negara, seperti derajat pendidikan tenaga kerja dan struktur ekonomi.
          Dasar persamaan untuk menggambarkan relasi antara pertumbuhan output agregat dan kemiskinan dapat diambil dari persamaan .dalam persamaan tersebut,elastisitas dari ketidakmerataan dalam distribusi pendapatan terhadap pertumbuhan pendapatan adalah suatu komponen kunci dari perbedaan antara efek bruto(ketimpangan konstan) dan efek neto(ada efek dari perubahan ketimpangan)dari pertumbuhan pendapatan terhadap kemiskinan.apabila elastisitas neto dan bruto dari kemiskinan terhadap pertumbuhan pendapatan dinyatakan masing-masing dengan g dan l,elastisitas dari ketimpangan terhadap pertumbuhan dengan b, dan elastisitas dari kemiskinan terhadap ketimpangan dengan d.
Distirbusi pendapatan
Studi-studi mengenai distribusi pendapatan di Indonesia pada umumnya menggunakan data BPS mengenai pengeluaran konsumsi rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) . data pengeluaran konsumsi dipakai sebagai suatu pendekatan (proksi) untuk mengukur distribusi pendapatan masyarakat. Walaupun diakui bahwa cara ini sebenernya mempunyai suatu kelemahan yang serius data pengeluaran konsumsi bias memberikan informasi yang tidak tepat mengenai pendapatan, atau tidak mencerminkan tingkat pendapatan yang sebenar nya. Jumlah pengeluaran konsumsi seseorang tidak harus selalu sama dengan jumlah pendapatan yang diterimanya, bias lebih besar atau lebih kecil.misalnya, pendapatannya lebih besar tidak selalu berarti pengeluaran konsumsinya juga besar, karena ada tabungan. Sedangkan, jika jumlah pendapatan nya rendah tidak selalu berarti jumlah konsumsinya juga rendah.banyak rumah tangga memakai kredit bank untuk membiayai pengeluaran konsumsi tertentu, misalnyauntuk beli rumah dan mobil, dan untuk membiayai sekolah anak atau bahkan untuk liburan.
Demikian pula pengertian pendapatan, yang artinya pembayaran yang didapat karena bekerja atau menjual jasa, tidak sama dengan pengertian kekeyaan.kekayaan seseorang bias lebih besar daripada pendapatannya.atau seseorang bias saja tidak punya pekerjaan (pendapatan) tetapi ia sangat kaya karena ada warisan keluarga. Banyak pengusaha-pengusaha muda di Indonesia kalau diukur dari tingkat pendapatan mereka tidak terlalu berlebihan, tetapi mereka sangat kayak arena perusahaan dimana mereka bekerja adalah milik mereka (atau orang tua mereka).
Akan tetapi, karena pengumpulan data pendapatan di Indonesia seperti di banyak LDCs lainnya masih relatif sulit, salah satunya karena banyak rumah tangga atau individu yang mempunyai pekerjaan di sektor informal atau tidak menentu. Maka penggunaan data pengeluaran konsumsi rumah tangga dianggap sebagai salah satu alternatif.
Kalau dilihat pada tingkat agregat dengan memperhatikan perkembangan sejumlah variable-variabel ekonomi makro selama Orde Baru hingga krisis ekonomi terjadi, misalnya laju pertumbuhan PDB rata-rata per tahun, peningkatan PN per kapita,diversifikasi ekonomi ,dan pangsa X nonmigas, diakui ada keberhasilan dari pembangunan ekonomi selama periode tersebut. Akan tetapi, keberhasilan suatu pembangunan ekonomi tidak dapat hanya di ukur dari laju pertumbuhan output atau peningkatan pendapatan secara agregat atau perkapita. Namun, bahkan lebih penting, harus dilihat juga dari pola distribusi peningkatan pendapatan tersebut
Kemiskinan
          Kemiskinan bukan hanya masalah Indonesia, tetapi merupakan masalah dunia. Laporan dari bank dunia menunjukkan bahwa pada tahun 1998 terdapat 1,2miliar orang miskin dari sekitar 5 miliar lebih jumlah penduduk di dunia.sebagian besar dari jumlah tersebut terdapat di asia selatan (43,5%) yang terkonsentrasi di india,bangladesh,Nepal,Sri lanka,dan Pakistan . afrika sub sahara merupakan wilayah kedua di dunia yang padat orang miskin (24,3%). Kemiskinan di wilayah ini disebabkan oleh iklim dan kondisi tanah yang tidak mendukung kegaiatan pertanian (kekeringan dan gersang) , pertikaian yang tidak henti-hentinya antar suku, menejemen ekonomi makro yang buruk, dan pemerintahan yang bobrok, wilayah ketiga yang terdapatbanyak orang miskin adalah asia tenggara dan pasifik (23,2%). Kemiskinan di asia tenggara terutama terdapat di cina,laos, Indonesia, Vietnam, Thailand, dan kamboja. Sisanya terdapat di amerika latin dan Negara-negara karibia (6,5%) eropa dan asia tengah (2,0%), serta timur tengah dan afrika utara (0,5%).
          Di Indonesia,kemiskinan merupakan salah satu masalah besar . terutama melihat kenyataan bahwa laju pengurangan jumlah orang miskin di tanah air berdasarkan garis kemiskinan yang berlaku jauh lebih lambat dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi , berdasarkan fakta ini, selalu muncul pertanyaan pakah memang laju pertumbuhan yang tinggi dapat mengurangi tingkat kemiskinan? Atau apakah memang terdaapat suatu korelasi negatif yang signifikan antara tingkat pertumbuhan dan persentase jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan?
          Kalau dilihat dari asia dalam studi Dealolikar dkk.(2002) , kelihatannya memang ada perbedaan dalam persentaseperubahan kemiskinan antara kelompok Negara dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan kelompok Negara dengan pertumbuhan yang rendah . ada sejumlah Negara, termasuk Indonesia, yang jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan bertambah walaupun ekonomi nya tumbuh positif.
          Karena kemiskinan adalah salah satu masalah serius di Indonesia maka tidak mengherankan kalau banyak studi telah di lakukan mengenai hal ini di Indonesia.sayangnya, pendekatan yang digunakan berbeda-beda , dan batas kemiskinan yang dipakai juga beragam antara studi tersebut, sehingga hasil atau gambaran mengenai kemiskinan di dalam negeri juga berbeda. Salah satu masalah yang sering di hadapi peneliti dalam menentukan kemiskinan absolut diindonesia dalam membandingkan tingkat kemiskinan antar provinsi atau daerah. Menurut Bidani dan Ravallion(1993) dan Sondakh (1995), kesuliatan tersebut bersumber pada variasi komposisi bahan kebutuhan pokok serta harga kebutuhan pokok yang berbeda-beda antar provinsi, selain harga relatif, juga perbedaan dalam selera, tingkat, serta jenis kegiatan ekonomi, barang-barang yang disediakan oleh pemerintah daerah, dan masih banyak lagi. Variable-variabel lain menyebabkan relasi antara jumlah serta komposisi makanan dan jumlah pengeluaran konsumsi berbeda antar daerah atau provinsi.
          Sedangkan Pradhan dkk,(2000) meneliti sector ekonomi yang paling besar sumbangan nya terhadap peningkatan kemiskinan di Indonesia pada periode krisis dengan membandingkan perubahan kemiskinan di Indonesia antara tahun 1996 dengan 1999 menurut sector, hasilnya yang menunjukan bahwa selama periode tersebut semua sector mengalami suatu kenaikan dalam kemiskinan . ini menyatakan secara tidak langsung bahwa tidak ada satu pun sector yang luput dari dampak negative dari krisis ekonomi.satu hal yang menarik dari hasil penelitian ini adalah bahwa ternyata pertanian adalah sector dengan tingkat kemiskinan terbesar dan juga dengan kontribusi terbesar terhadap peningkatan kemiskinan di tanah air.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar